Beranda | Artikel
Mengenal Tauhid [Bagian 28]
Minggu, 21 Januari 2018

Bismillah.

Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Salawat dan salam semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka. Amma ba’du.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, kita masih melanjutkan pembahasan seputar keutamaan orang yang merealisasikan tauhid. Bahwa mereka yang merealisasikan tauhid dengan sempurna maka balasannya adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Yang dimaksud merealisasikan tauhid itu adalah membersihkannya dari kotoran syirik, bid’ah dan maksiat.

Merealisasikan tauhid berarti mengikhlaskan ibadah untuk Allah semata dan membersihkan hati dari niat-niat yang kotor dan hina. Merealisasikan tauhid berarti mengenali syirik besar dan kecil serta berusaha keras untuk menjauhinya. Merealisasikan tauhid berarti mengenali dosa besar dan dosa kecil lalu meninggalkan dan bertaubat darinya. Merealisasikan tauhid berarti meninggalkan maksiat dan bid’ah serta menghiasi diri dengan sunnah.

Orang yang merealisasikan tauhid sangat takut terjerumus dalam syirik dan pembatal-pembatal keislaman. Orang yang merealisasikan tauhid takut dirinya terjangkiti kemunafikan. Orang yang merealisasikan tauhid tidak menganggap dirinya suci dan bersih dari dosa. Orang yang merealisasikan tauhid tidak merasa aman dari makar Allah. Orang yang merealisasikan tauhid tidak berputus asa dari rahmat Allah. Orang yang merealisasikan tauhid akan selalu mensyukuri nikmat Allah dan sabar dalam menghadapi musibah dan bencana. Orang yang merealisasikan tauhid akan menghiasi lisan dan hatinya dengan taubat dan istighfar.

Mewujudkan tauhid butuh pada keyakinan yang kuat. Sebab keragu-raguan merupakan penyakit kaum munafikin; yang mengucapkan dengan lisannya apa-apa yang tidak ada di dalam hatinya. Mereka mengaku dengan lisannya beriman kepada Allah dan hari akhir padahal sebenarnya mereka bukan termasuk kaum beriman. Kaum munafik menyimpan penyakit keraguan di dalam hatinya, maka Allah pun tambahkan penyakitnya kepada mereka. Oleh sebab itu dalam merealisasikan tauhid seorang muslim harus membekali diri dengan keyakinan yang kuat. Keyakinan yang kuat tentang keesaan Allah dalam hal ibadah. Keyakinan yang kuat dalam hal kebenaran rasul dan wahyu yang beliau bawa. Keyakinan yang kuat tentang benarnya Islam dan batilnya agama selainnya. Keyakinan yang kuat terhadap akhirat dan hari pembalasan.

Untuk merealisasikan tauhid itu seorang mukmin membutuhkan keyakinan dan kesabaran. Oleh sebab itu di dalam surat an-Nahl ayat 120 Allah memuji Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagai seorang umat; maksudnya seorang pemimpin teladan dalam kebaikan. Sementara derajat kepemimpinan dan teladan itu hanya bisa diraih dengan sabar dan keyakinan.

Keyakinan merupakan perisai untuk menepis kesesatan dan kerancuan pemahaman, sedangkan kesabaran merupakan perisai untuk menepis penyimpangan hawa nafsu dan keinginan. Oleh sebab itu Allah menyebutkan di dalam surat al-’Ashr diantara tanda kaum yang selamat dari kerugian adalah ‘mereka yang saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran’. Menasihati dalam kebenaran adalah obat untuk fitnah syubhat, sedangkan menasihati dalam kesabaran merupakan obat untuk fitnah syahwat.

Di dalam surat an-Nahl ayat 120 disebutkan salah satu sifat Nab Ibrahim ‘alaihis salam sebagai orang yang selalu patuh ‘qaanit’. Hal ini menunjukkan kesempurnaan penghambaan beliau kepada Allah. Karena hakikat penghambaan itu adalah perendahan diri dan ketundukan kepada Allah dengan dilandasi kecintaan dan pengagungan. Orang yang tunduk kepada Allah maka dia akan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Selain itu Allah juga menyebut Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagai orang yang hanif, yaitu menghadapkan hati dan anggota badannya untuk mengabdi kepada Allah serta berpaling dari pengabdian kepada selain-Nya. Orang yang hanif ialah yang condong dan membela kebenaran sehingga ia akan meninggalkan kebatilan dan kesesatan. Termasuk kebatilan itu adalah syirik kepada Allah; sebesar-besar dosa dan seburuk-buruk maksiat kepada Allah.

Hal itu tidak lain karena kecintaan yang sangat dalam kepada Allah, kecintaan yang disertai ketundukan, cinta yang murni kepada Allah sehinga mencampakkan segala bentuk sesembahan selain Allah. Kecintaan inilah yang membuat seorang hamba meninggalkan syirik, membencinya dan memusuhi orang-orang yang menebarkan syirik dan kesesatan di muka bumi ini. Karena Allah tidak meridhai kekafiran dan tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Kemudian Allah juga memuji Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagai sosok yang tidak bergabung bersama kaum musyrikin, baik dengan hati, lisan, maupun badannya. Hal ini memberikan pelajaran berharga bagi kita bahwa seorang yang mengajak kepada tauhid tidak bisa tidak harus membenci dan memusuhi syirik siapa pun pelakunya dan apa pun yang disembah selain Allah. Oleh sebab itu cinta dan benci karena Allah merupakan buhul keimanan yang paling kuat.

Maka di dalam sifat-sifat inilah berpadu pilar-pilar keimanan. Sebab hakikat islam itu adalah kepasrahan kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan penuh ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya. Inilah hakikat Islam yang dibawa oleh para nabi dan rasul. Di dalamnya terkandung pemurnian ibadah kepada Allah, ketaatan kepada perintah dan larangan-Nya, dan meninggalkan segala bentuk penghambaan kepada selain-Nya. Begitu pula terkandung cinta dan benci karena Allah, dengan sifat-sifat inilah akan terwujud keimanan yang sejati.

Cinta dan Benci karena Allah

Cinta dan benci karena Allah inilah yang diajarkan oleh para nabi ‘alaihimus salam kepada umatnya. Seperti yang ditegaskan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika berdakwah kepada kaumnya. Allah berfirman (yang artinya), “Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya; Sesungguhnya aku berlepas diri dari kalian dan dari apa-apa yang kalian sembah selain dari Dzat yang telah menciptakanku…” (az-Zukhruf : 26-27)

Allah berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada bagi kalian teladan yang indah pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya. Yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian dan telah tampak antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah semata…” (al-Mumtahanah : 4)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sungguh telah disyari’atkan terjadinya permusuhan dan kebencian dari sejak sekarang antara kami dengan kalian selama kalian bertahan di atas kekafiran, maka kami akan berlepas diri dan membenci kalian untuk selamanya “sampai kalian beriman kepada Allah semata” maksudnya adalah sampai kalian mentauhidkan Allah dan beribadah kepada-Nya semata yang tiada sekutu bagi-Nya dan kalian mencampakkan segala yang kalian sembah selain-Nya berupa tandingan dan berhala.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 8/87)

Dari Abu Umamah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi karena Allah, maka dia telah menyempurnakan iman.” (HR. Abu Dawud, disahihkan al-Albani)

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Simpul keimanan yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, dihasankan al-Albani dalam ta’liq Kitab al-Iman Ibnu Abi Syaibah)

Oleh sebab itu para ulama mengharamkan apa yang disebut dengan tawalli yaitu mencintai syirik dan orang musyrik atau membantu kaum kafir dalam menindas kaum muslimin. Perbuatan semacam ini termasuk kufur akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Demikian pula apabila seorang muslim membantu kaum kafir untuk mengalahkan kaum muslimin karena dia ingin kekafiran dan syirik menang meskipun dia sendiri tidak menyukai syirik, hal ini termasuk kemurtadan (lihat Syarh Tsalatsah al-Ushul oleh Syaikh Shalih alu Syaikh, hal. 40-41)

Termasuk perkara yang diharamkan juga adalah mencintai dan loyal kepada orang kafir atau musyrik dengan alasan duniawi atau karena hubungan kekerabatan dsb. Perbuatan semacam ini disebut dengan istilah muwaalah (setia) kepada orang kafir. Hal ini termasuk maksiat tetapi bukan kekafiran. Namun apabila kecintaan ini disertai pembelaan dan bantuan kepada mereka -dengan niat supaya kekafiran menang- ia berubah menjadi tawalli; yaitu loyalitas kepada musuh Allah yang termasuk dalam kekafiran dan pelakunya menjadi murtad. Allah berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai wali/pemimpin dan penolong…” (al-Mumtahanah : 1) (lihat keterangan Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah dalam Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 41)

Membangun Pemahaman Islam

Hendaknya mengenal agama Islam ini dilandasi dengan dalil, bukan semata-mata taklid atau ikut-ikutan. Hakikat islam itu sendiri adalah kepasrahan kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan melakukan ketaatan, dan membersihkan diri dari segala bentuk syirik. Islam disebut dengan islam/pasrah karena di dalamnya terkandung sikap pasrah dan tunduk kepada Allah, taat perintah-Nya, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya (lihat Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah oleh Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah, hal. 12-13)

Syaikh Sulaiman bin ‘Abdullah rahimahullah berkata, “Ibadah kepada-Nya adalah taat kepada-Nya dengan melakukan hal yang diperintahkan dan meninggalkan hal yang dilarang. Itulah hakikat agama Islam. Karena makna ‘islam’ adalah kepasrahan kepada Allah yang mengandung puncak kepatuhan dan diliputi puncak perendahan diri dan ketundukan.” Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, bahwa agama Allah ini disebut dengan ‘islam’ disebabkan ia mengandung perendahan diri dan ketundukan kepada perintah dan larangan Allah (lihat al-Fawa’id al-‘ilmiyah min ad-Durus al-Baziyah, 2/82)

Islam adalah kepasrahan kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan penuh ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya. Inilah pengertian Islam yang telah disampaikan oleh para ulama kepada kita. Dengan demikian tidak mungkin tegak Islam pada diri seorang hamba kecuali setelah dia mewujudkan tauhid. Oleh sebab itu setiap nabi mengajak kepada kalimat tauhid ‘laa ilaha illallah’. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Kami mengutus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada ilah/sesembahan -yang benar- selain Aku, maka sembahlah Aku.” (al-Anbiyaa’ : 25)

Dan jangan kita mengira bahwa kalimat ‘laa ilaha illallah’ itu cukup diucapkan dengan lisan saja. Lihatlah kaum munafikin yang ditegaskan oleh Allah bahwa mereka itu berada di dalam kerak neraka yang paling bawah; bukankah mereka juga mengucapkan dua kalimat syahadat? Meskipun demikian ucapannya itu sama sekali tidak bermanfaat. Mereka mengucapkan apa-apa yang tidak tertanam di dalam hati.

Kalimat tauhid adalah kalimat yang berisi penolakan ibadah kepada selain Allah dan mengukuhkan peribadatan kepada Allah semata. Tidak boleh disembah selain Allah apakah itu malaikat, nabi, wali, apalagi batu dan pohon. Allah berfirman (yang artinya), “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (an-Nisaa’ : 36). 

Tauhid inilah yang telah mulai luntur dalam hati dan alam pikiran banyak kaum muslimin. Begitu banyak fenomena kerusakan akidah dan penyimpangan dalam hal tauhid. Praktek perdukunan dan para pendusta berkedok agama pun bermunculan. Bahkan sebagian orang merasa bahwa dirinya sudah paham tauhid dengan sempurna. Mereka mengira bahwa dirinya pasti selamat dari syirik. Mereka menyangka bahwa syirik itu hanya menyembah berhala dan patung saja.

Mewujudkan Hakikat Penghambaan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ibadah merupakan sebuah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa ucapan dan perbuatan, yang batin maupun lahir. Ini artinya sholat, zakat, puasa, haji, jujur dalam berbicara, menunaikan amanat, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali kekerabatan, menepati janji, memerintahkan yang ma’ruf, melarang yang mungkar, berjihad memerangi orang kafir dan munafik, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, maupun kepemilikan dari kalangan manusia (budak) atau binatang piaraan, berdoa, berdzikir, membaca al-Qur’an, dan lain sebagainya itu semua adalah ibadah. Demikian juga kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya, rasa takut kepada Allah, inabah kepada-Nya, mengikhlaskan agama untuk-Nya, bersabar menghadapi ketetapan-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, ridha dengan takdir-Nya, bertawakal kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya, takut kepada azab-Nya, dan semisalnya [itu semua juga] termasuk ibadah kepada Allah.” (lihat al-‘Ubudiyah, hal. 6 cet. Maktabah al-Balagh)

Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah menerangkan, “Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa ibadah adalah melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Tercakup di dalamnya menunaikan kewajiban-kewajiban dan menjauhkan diri dari berbagai hal yang diharamkan. Melakukan hal-hal yang wajib dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan; yaitu dengan melakukan kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang bersifat batin maupun lahir. Meninggalkan hal-hal yang diharamkan, berupa ucapan maupun perbuatan, yang batin maupun yang lahir.” (lihat Syarh al-‘Ubudiyah, hal. 5)  

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Ibadah mencakup melakukan segala hal yang diperintahkan Allah dan meninggalkan segala hal yang dilarang Allah. Sebab jika seseorang tidak memiliki sifat seperti itu berarti dia bukanlah seorang ‘abid/hamba. Seandainya seorang tidak melakukan apa yang diperintahkan, maka orang itu bukanlah hamba yang sejati. Seandainya seorang tidak meninggalkan apa yang dilarang, maka orang itu juga bukan hamba yang sejati. Seorang hamba -yang sejati- adalah yang menyesuaikan dirinya dengan apa yang dikehendaki Allah secara syar’i.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-Karim, Juz ‘Amma, hal. 15)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwasanya istilah ibadah biasa digunakan untuk menyebut salah satu diantara dua hal ini. Pertama; penghambaan kepada Allah yaitu dengan perendahan diri kepada-Nya dengan penuh kecintaan dan pengagungan dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Kedua; segala hal yang digunakan untuk menghamba kepada-Nya, yaitu mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah berupa ucapan dan perbuatan yang tampak dan yang tersembunyi (lihat al-Qaul al-Mufid, 1/7 cet. Maktabah al-‘Ilmu) 

Pokok Ibadah dan Ruh Amalan

Cinta kepada Allah merupakan ruh dari segala ibadah dan ketaatan. Karena hakikat ibadah itu adalah melakukan apa-apa yang dicintai dan diridhai Allah. Ibadah tidaklah disebut ibadah kecuali apabila dilandasi kecintaan dan pengagungan. Ketika ibadah tidak muncul dari kecintaan maka ibarat tubuh tanpa nyawa. Oleh sebab itu Allah mencela kaum musyrikin karena mereka mengangkat sesembahan tandingan bagi Allah yang mereka cintai seperti cintanya kepada Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sebagian manusia ada orang yang mengangkat selain Allah sebagai sekutu (sesembahan tandingan). Mereka mencintainya seperti cintanya kepada Allah, sedangkan orang-orang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.” (al-Baqarah : 165)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “…Pokok semua amalan adalah kecintaan. Seorang manusia tidak akan melakukan amalan/perbuatan kecuali untuk apa yang dicintainya, bisa berupa keinginan untuk mendapatkan manfaat atau demi menolak madharat. Apabila dia melakukan sesuatu; maka bisa jadi hal itu terjadi karena untuk mendapatkan sesuatu yang disenangi karena barangnya seperti halnya makanan, atau karena sebab luar yang mendorongnya seperti halnya mengkonsumsi obat. Adapun ibadah kepada Allah itu dibangun di atas kecintaan, bahkan ia merupakan hakekat/inti daripada ibadah. Sebab seandainya kamu melakukan sebentuk ibadah tanpa ada unsur cinta niscaya ibadahmu akan terasa hampa dan tidak ada ruhnya sama sekali…” (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [2/3] cet. Maktabah al-‘Ilmu)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Pokok dan ruh ketauhidan adalah memurnikan rasa cinta untuk Allah semata, dan hal itu merupakan pokok penghambaan dan penyembahan kepada-Nya. Bahkan, itulah hakekat dari ibadah. Tauhid tidak akan sempurna sampai rasa cinta seorang hamba kepada Rabbnya menjadi sempurna, dan kecintaan kepada-Nya harus lebih diutamakan daripada segala sesuatu yang dicintai. Sehingga rasa cintanya kepada Allah mengalahkan cintanya kepada selain-Nya dan menjadi penentu atasnya, yang membuat segala perkara yang dicintainya harus tunduk dan mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan menggapai kebahagiaan dan kemenangan.” (lihat al-Qaul as-Sadid Fi Maqashid at-Tauhid, hal. 95)

Anas bin Malik radhiyallahu’anhu menceritakan, suatu ketika seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan hari kiamat terjadi?”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apa yang kamu persiapkan untuk menghadapinya?”. Dia menjawab, “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.” Nabi bersabda, “Kamu akan bersama orang yang kamu cintai.” Anas berkata, “Tidaklah kami bergembira setelah masuk Islam dengan kegembiraan yang lebih besar selain tatkala mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kamu bersama orang yang kamu cintai.” Maka aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap bersama mereka -di akherat- meskipun aku tidak bisa beramal seperti mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bukti Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya

Allah berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah teladan yang indah (uswah hasanah) yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (al-Ahzab : 21)

Muhammad bin ‘Ali at-Tirmidzi rahimahullah mengatakan, “Beruswah kepada rasul maksudnya adalah meneladani beliau, mengikuti sunnah/ajarannya, dan meninggalkan tindakan yang menyelisihinya baik berupa ucapan maupun perbuatan.” (lihat asy-Syifaa, hal. 479)

Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran : 31)

Allah berfirman (yang artinya), “Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi dari perintah/ajaran rasul itu, karena mereka akan tertimpa suatu fitnah/malapetaka, atau akan menimpa mereka azab yang sangat pedih.” (an-Nuur : 63)

Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu berkata, “Aku tidak akan pernah membiarkan sesuatu yang dahulu diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali hal itu pasti aku kerjakan. Sesungguhnya aku takut apabila aku tinggalkan sedikit saja dari ajaran beliau maka aku menjadi sesat/menyimpang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu berkata -sambil melihat Hajar Aswad-, “Demi Allah!Sesungguhnya kamu ini adalah batu, tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat. Kalaulah bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu maka niscaya aku pun tidak akan menciummu.” (lihat asy-Syifaa, hal. 487) 

Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman, Kami akan membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatan yang dia pilih, dan Kami akan memasukkannya ke dalam neraka Jahannam, dan sungguh Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisaa’ : 115)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menaatiku sungguh dia telah menaati Allah, dan barangsiapa durhaka kepadaku sungguh dia telah durhaka kepada Allah…” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa taat kepadaku niscaya dia masuk surga, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka dia lah orang yang enggan -masuk surga-.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

Kewajiban Berhukum Dengan al-Kitab dan as-Sunnah

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan hendaklah kamu putuskan hukum diantara mereka dengan apa-apa yang diturunkan Allah.” (al-Maa’idah : 49)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi dari perintah/ajaran rasul itu; karena mereka akan tertimpa fitnah/petaka, atau menimpa kepada mereka azab yang sangat pedih.” (an-Nuur : 63)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan apa saja yang kalian perselisihkan maka ketetapan hukumnya harus dikembalikan kepada Allah.” (asy-Syura : 10)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka itu memiliki sekutu-sekutu yang membuat syari’at/aturan di dalam agama ini; sesuatu hal yang sama sekali tidak diberikan izin oleh Allah untuk itu?” (al-An’aam : 121)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sekali-kali tidak, demi Rabbmu! Mereka tidaklah beriman sampai mereka menjadikan engkau [Muhammad] sebagai hakim atas mereka dalam menyelesaikan perkara yang diperselisihkan diantara mereka, kemudian mereka tidak mendapati di dalam hati mereka rasa sempit atas apa yang telah Kamu putuskan, dan mereka pun pasrah dengan sepenuhnya.” (an-Nisaa’ : 65)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin.” (al-Maa’idah : 50)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka apabila mereka itu tidak mau memenuhi seruanmu [Muhammad] ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka sedang mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah orang yang lebih sesat daripada yang mengikuti hawa nafsunya tanpa bimbingan petunjuk dari Allah?” (al-Qashash : 50)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah maka mereka itulah orang-orang kafir.” (al-Maa’idah : 44)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah maka mereka itulah orang-orang zalim.” (al-Maa’idah : 45)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah maka mereka itulah orang-orang fasik.” (al-Maa’idah : 47)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara, hendaklah kalian kembalikan hal itu kepada Allah [al-Qur’an] dan Rasul [as-Sunnah] jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Itulah yang terbaik untuk kalian dan paling bagus hasilnya.” (an-Nisaa’ : 59)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa penafsiran yang tepat tentang makna ulil amri adalah mencakup ulama dan juga umara’, inilah penafsiran yang memadukan riwayat-riwayat dari para sahabat (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [2/235])

Ketaatan kepada ulil amri berlaku selama tidak memerintahkan kemaksiatan. Apabila mereka memerintahkan kemaksiatan maka tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada al-Khaliq (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 183-184)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang merenungkan keadaan alam semesta dan berbagai keburukan yang terjadi padanya, niscaya dia akan menyimpulkan bahwa segala keburukan di alam semesta ini sebabnya adalah menyelisihi rasul dan keluar dari ketaatan kepadanya. Demikian pula segala kebaikan yang ada di dunia ini sebabnya adalah ketaatan kepada rasul.” (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [2/236-237])

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Telah sepakat para ulama terdahulu [salaf] dan belakangan [kholaf] bahwasanya maksud dari kembali kepada Allah adalah mengembalikan kepada Kitab-Nya, sedangkan kembali kepada Rasul adalah mengembalikan kepada beliau semasa hidupnya dan kepada Sunnahnya setelah beliau wafat.” (lihat dalam adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [2/236])

Ibnu Katsir rahimahullah mengomentari ayat di atas, “Hal ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang tidak mau berhukum dalam hal-hal yang diperselisihkan kepada al-Kitab dan as-Sunnah serta tidak merujuk kepada keduanya dalam menyelesaikan masalah itu, pada hakikatnya dia bukanlah orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [2/346])

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Hal itu menunjukkan bahwa barangsiapa yang tidak mengembalikan hal-hal yang diperselisihkan kepada keduanya -al-Qur’an dan as-Sunnah- maka dia bukanlah seorang mukmin yang sebenarnya; bahkan dia adalah orang yang beriman kepada thoghut…” (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 184)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah pantas bagi seorang lelaki yang beriman, demikian pula perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara lantas masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (al-Ahzab: 36)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Ayat ini bersifat umum mencakup segala permasalahan. Yaitu apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan hukum atas suatu perkara, maka tidak boleh bagi seorang pun untuk menyelisihinya dan tidak ada lagi alternatif lain bagi siapapun dalam hal ini, tidak ada lagi pendapat atau ucapan -yang benar- selain itu.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [6/423] cet. Dar Thaibah)

Keterjagaan al-Kitab dan as-Sunnah

Di dalam surat al-Hijr, Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami lah yang telah menurunkan adz-Dzikr (al-Qur’an) dan Kami pula yang menjaganya.” (al-Hijr : 9)

Imam al-Baghawi rahimahullah menjelaskan, bahwa maksud ayat ini adalah Allah senantiasa menjaga al-Qur’an ini dari gangguan setan baik dalam bentuk penambahan maupun pengurangan ataupun penggantian. Allah berfirman (yang artinya), “Tidak datang kepadanya kebatilan dari arah depan dan dari arah belakang.” (Fushshilat : 42) (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 694)

Imam Ibnu Katsir rahimahulah menerangkan, bahwa maksud ayat ini adalah Allah menjaga al-Qur’an dari perubahan dan penggantian (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 4/527)

Allah turunkan al-Qur’an dan as-Sunnah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Allah turunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah, dan Allah ajarkan kepadamu apa-apa yang sebelumnya tidak kamu ketahui…” (an-Nisaa’ : 113)

Di dalam ar-Risalah, Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Aku mendengar para ulama al-Qur’an yang aku ridhai, mereka mengatakan bahwasanya yang dimaksud al-Hikmah adalah Sunnah (hadits) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (lihat Ma’alim Ushul Fiqh, hal. 118)

Oleh sebab itu wajib tunduk kepada perintah dan larangan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila aku melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah hal itu, dan apabila aku memerintahkan sesuatu maka lakukanlah sekuat kemampuan kalian.” (HR. Bukhari). Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ketahuilah, bahwa apa-apa yang diharamkan oleh Rasulullah sama kedudukannya dengan apa-apa yang diharamkan oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah) (lihat Ma’alim Ushul Fiqh, hal. 121)

al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan wahyu dari Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah dia -Muhammad- berbicara dengan hawa nafsunya. Tidaklah yang diucapkannya itu melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (an-Najm : 3-4).

Imam al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini merupakan bantahan bagi orang kafir di masa itu yang mengatakan bahwa Muhammad mengarang al-Qur’an itu dari pikirannya sendiri (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 1242).

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwasanya as-Sunnah (hadits) merupakan wahyu dari Allah kepada rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan Allah turunkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah.” Dan ayat ini juga menunjukkan bahwa beliau ma’shum/terjaga dalam hal penyampaian berita yang bersumber dari Allah ta’ala dan syari’at-Nya. Hal itu disebabkan ucapan beliau tidak muncul dari hawa nafsu tetapi bersumber dari wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 818)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya aku telah diberikan al-Kitab (al-Qur’an) dan yang serupa dengannya bersama itu.” (HR. Abu Dawud)

Oleh sebab itu ketaatan kepada rasul merupakan bentuk ketaatan kepada Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa taat kepada Rasul itu sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (an-Nisaa’ : 80). Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa di dalam ayat ini Allah memberitakan barangsiapa taat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia telah taat kepada Allah dan barangsiapa durhaka kepadanya sesungguhnya dia telah durhaka kepada Allah. Dan tidaklah hal itu melainkan karena apa-apa yang beliau ucapkan tidak lain merupakan wahyu yang diwahyukan kepadanya (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 2/363)

Dengan demikian, as-Sunnah atau hadits merupakan wahyu yang kedua -setelah al-Qur’an- sehingga barangsiapa mengingkari dan menentangnya maka dia menjadi kafir (lihat keterangan Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah dalam Minhatul Malik al-Jalil, 1/7)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Apabila kalian menemukan Sunnah (hadits) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ikutilah ia, dan jangan kalian menoleh kepada [pendapat] siapa pun.” Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia berada di tepi jurang kehancuran.” (lihat nukilan-nukilan ini dalam Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah, hal. 145)

Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhu bahwa beliau berkata : Dahulu aku menulis apa saja yang kudengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena aku ingin menghafalkannya. Orang-orang Quraisy pun melarangku, mereka berkata, “Apakah kamu menulis semua yang kamu dengar sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia dimana beliau berbicara dalam keadaan murka dan ridha?!” Maka aku pun menahan diri dari mencatatnya. Kemudian aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau pun mengisyaratkan dengan jarinya ke mulutnya sembari berkata, “Tulislah! Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak keluar dari sini kecuali kebenaran.” Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani (lihat Sahih Sunan Abi Dawud, 2/408)

Demikian sedikit catatan yang bisa disajikan dalam kesempatan ini, semoga bermanfaat.

Penyusun : www.al-mubarok.com


Artikel asli: https://www.al-mubarok.com/mengenal-tauhid-bagian-28/